Kolom Soekam Parwadi

Beras Butih – Beras Konsumsi Pekerja

“makanan sebagai obat – yes” ….  “öbat sebagai makanan – no”

Beras putih adalah beras bergengsi – itu dulu. Sekarang mulai merebak pengertian bahwa “beras putih adalah beres pekerja”. Artinya, beras putih lebih pas (hanya) untuk konsumsi para pekerjaan berat. Pekerja fisik yang memerlukan energy besar, misalnya pekerja bangunan, pekerja pertanian, pekerja dipelabuhan atau petugas lapangan. Namun hingga saat ini kedudukan social beras putih masih berada dipuncak tangga.

Konsumsi beras putih masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 111,58 kg/kapita/tahun. Untuk memenuhi pangan beras bagi 270juta penduduk dibutuhkan beras putih 30,13 juta ton/tahun. Kalau harus ada cadangan beras 2 juta ton (perhitungan dirut Bulog) , maka harus ada beras putih itu sebesar 32,13 juta ton pada 2020.

Sementara berdasarkan angka dari BPS tahun 2019, tercatat produski beras putih sebesar 31,31 jutan ton. Menurun dari angka produksi tahun 2018 sebesar 33,94 juta ton (BPS). Ada penurunan produksi sebesar 2,63 juta ton. Kalau produksi beras 2020 tidak menurun saja, kita sudah deficit 820 ribu ton. Kalau angka produksi menurun seperti tahun 2019 sebesar 2,5 juta ton lebih, maka kita deficit 3 juta ton lebih. Ini yang bikin pusing kita memikirkan kekurangan beras. Beras putih. Karena unsur produksi padi kita potensinya semakin menurun.

Sementara itu, untuk kesehatan yang prima, besarnya konsumsi beras yang dianjurkan oleh badan panga dunia (FAO) adalah 60-70 kg/kapita/tahun. Sedangkan konsumsi beras penduduk Indonesia rata-rata 111,58 kg/kapita/tahun. Karenanya, Indonesia termasuk pemegang rekor sebagai konsumen beras besar dunia. Tapi yang lebih mengejutkan, karena itu pulalah, Indonesia juga memegang rekor penderita penyakit gula/diabetes besar dunia. Padahal kalau seseorang sudah terkena penyakit gula, walau berhenti makan nasi (putih) sekalipun, tidak serta merta penyakitnya segera sembuh. Tetapi fakta itu tetap membuat orang Indonesia – termasuk yang tahu – tidak mau mengurangi apalagi  meninggalkan makan beras putih. Bagi kalangan ilmuwan kesehatan, agaknya memandang beras putih sebagai biang diabetes. Mungkin terlalu “kejam” ya pandangan atau anggapan itu. Namun jujur, faktanya memang demikian.

Beras putih lebih pas sebagai “beras pekerja” karena kadar kalorinya yang tinggi dibanding beras berwarna. Tiap gelas beras putih mengandung 242 k.kal. Sementara beras hitam hanya mengandung 218 k.kal dan beras hitam mengandung 200 k.kal. Ini karena kadar karbohidrat beras putting memang paling tinggi disbanding beras berwarna. Tiap gelas beras putih mengandung karbohidrat 53,2 g – beras merah 45,8 g – beras hitam 43,0 g.

Jadi, bagi masyarakat yang kerja fisiknya sedikit sebaiknya tidak mengkonsumsi beras putih agar tidak kelebihan kalori yang menyebabkan kegemukan (obesitas). Obesitas adalah “ladang subur” munculnya berbagai penyakit. Sebenarnya beras yang lebih cocok bagi masyarakat non-pekerja berat, yaitu beras berwarna yang memiliki kadar kalorinya lebih rendah. Kadar serat, lemak, protein, vitamin mineral beras putih rendah,  beras merah berkadar sedang. Beras hitam mengandung serat, lemak, protein, vitamin mineral tinggi.

Beras berwarna bukan hanya kadar kalorinya yang rendah, tetapi index glikemiknya juga rendah. Index glikemik adalah kemampuan suatu makanan untuk meningkatkan kadar gula dalam darah. Semakin rendah index glikemiknya, beras semakin baik. Index glikemik beras putih 89, beras merah 50, beras hitam 42,3. Semakin rendah kadar kalorinya, semakin rendah indek glikemiknya semakin baik bagi “poro priyayi” yang profesinya tidak memerlukan kerja fisik berat. Badan akan lebih sehat alami, berat badan dapat ideal, jadi lebih bahagia. Disini berlaku adagium “makanan sebagai obat”- bukannya – “öbat sebagai makanan”. Berikutnya usia – In Shaa Allah – akan lebih panjang.

Mengapa kebanyakan masyarakat memilih beras putih untuk nasinya..?,  sebagian besar karena pertimbangan rasanya. Bagi pekerja berat, nasi putih bagus, karena kalorinya tinggi. Makanya petani, buruh tani itu tetap sehat walau makan nasi putih karena semua kalori terbakar menjadi energy kinerja. Bahkan banyak yang kurus-kering karena kurang asupan nasinya. Tapi bagi para manajer, pejabat tinggi, para boss yang kinerjan fisiknya rendah – makannya nasi putih yang pulen, ditambah pangan hewaninya banyak gemuklah dia.

Bagi Negara, kalau pola konsumsi beras putih hanya untuk pekerja berat, Indonesia tidak akan terlalu berat dalam menghadapi kegiatan produksi yang kondisi alamnya semakin turun daya produksinya. Saat ini dengan penduduk 267juta jiwa, konsumsi berasnya 110 kg/kapita/tahun, maka kebutuhan berasnya sebesar 29,4juta ton/tahun. Taruhlah masyarakat pekerja berat kita ini sekitar 70% maka kebutuhan beras putihnya hanya 20,5juta ton/tahun. Sementara 30% masyarakat lainnya terbagi dua, yang 15% masih mengkonsumsi campuran beras putih dan beras berwarna, yang 15% lagi sudah full beras berwarna, maka produksi padi kita akan sangat meringankan budidaya padi. Inilah revolusi perberasan menuju masyarakat Indonesia yang sehat.

 

 

Soekam Parwadi

Direktur paskomnas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *