Kolom Soekam Parwadi

Pecel “Combrang” Hilang, Daun “Pepaya Jepang” Datang

Pagi hari diakhir Januari lalu saya dan istri naik kreta api dari Bandung ke Jogjakarta. Saya memilih berangkat pagi karena ingin menikmati jajanan khas diperjalanan, termasuk nasi pecel  Combrang di stasiun KA Sidareja – Cilacap. Saya membayangkan betapa nikmatnya makan pecel dengan aroma khas bunga combrang mentah yang rasanya sengir-sengir manis. saya juga sudah kangen bercanda dengan bahasa Banyumas-an bersama penjual Nasi Pecel Combrang-nya sebagai sumber nafkah. Perjalanan kereta api agak lambat diwilayah Jawa Barat karena harus melewati kawasan pegunungan yang berkelok-kelok. Pemandangan indah dipegunungan pagi itu membuat saya bersama istri asyik menikmatinya sehingga tak terasa perut telah lapar. Setelah melewati stasiun Kota Banjar, saya mulai senang karena hampir sampai di Stasiun Sidareja – Cilacap untuk membeli nasi pecel Combrang.

Namun betapa kecewanya, karena ternyata distasiun yang dikelilingi kawasan perdesaan itu menjadi sepi dari penjual pecel. Mungkin semua masih ingat, beberapa waktu lalu para pedagang asongan disekitar stasiun Purwokerto melakukan demo. Demo ditujukan kepada pengelola/kepala stasiun KA Purwokerto yang melarang para pengasong berjualan distasiun. Alasannya dilarangnya pedagang asongan yang telah lama menjadi sumber nafkah rakyat sekitar stasiun itu mengganggu kenyamanan penumpang kreta. Demo itu akhirnya tidak berhasil, sehingga stasiun menjadi bersih dari pedagang asongan. Agaknya itu pula yang menjadikan stasiun kampung di Sidareja juga harus bersih dari pedagang pecel kesayangan saya. Yang muncul distasiun adalah toko sekelas …mart atau warung makanan  berkelas. Pedagang asongan rakyat sekitar stasiun itu pergi entah kemana. Sebagai rasa solidaritas kami terhadap nasib para pengasong nasi pecel distasiun itu saya dan istri menahan lapar hingga stasiun Jogja.

Nasi pecel memang unik. Bahan sayur beraneka ragam yang mudah didapat di Indonesia ini memberikan menu spesifik dimasing-masing daerah. Di Jawa timur, pecelnya khas karena ada bunga turi merah. Di Jogja-Solo dan sekitarnya, pecelnya khas karena ada daun kenikir dan biji lamtoro Jawa/Mlanding mentahnya. Di Kebumen hingga Cilacap dan daerah Banyumas ada bunga Combrang yang harum aromanya. Sementara di Jawa Barat, Jabodetabek hingga Banten pecel mulai jarang ditemui, kecuali diwarung-warung khas Jateng-Jatim. Uniknya Pecel yang dijajakan di Jabodetabek itu sayurnya dilengkapi dengan “daun pepaya jepang” yang banyak ditemukan dipasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, atau dapat dibeli melalui situs belanja online paskomnas.com.  Rasa nasi pecel dengan daun pepaya jepang di-Jabodetabek ini seperti menjadi koleksi menu baru pecel-nusantara. Menu nasi pecel itu paling pas untuk disantap saat sarapan pagi menemani nasi liwet beras merah.  Cobalah, walau tidak sambil naik kereta api.

 

Soekam Parwadi

 

 

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *